Rupiah Bangkit

Berita 21/11/2018
Rupiah Indonesia

Periode suram yang dihadapi rupiah sepuluh bulan terakhir mulai berbalik arah. Kemarin, nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatan yang berlangsung sejak Kamis pekan lalu dengan naik 113 poin ke level 14.651 per dolar Amerika Serikat.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, mengatakan titik balik nasib rupiah didorong oleh faktor eksternal, terutama kondisi politik dalam negeri Amerika Serikat dan hubungan dagang negara tersebut dengan Cina. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum sela kongres AS, The House of Representatives, disambut investor sebagai peluang untuk menghambat berbagai agenda Presiden Donald J. Trump dan Partai Republik yang selama ini dianggap tak ramah pasar dan mengganggu perekonomian global. “Ketika kondisi eksternal beranjak kondusif, investasi pun kembali mengalir masuk,” kata Dody kepada Tempo, kemarin.

Hal senada diutarakan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution. “Orang mulai hitung kebijakan galak Trump boleh jadi mulai direm,” kata Darmin kemarin. “Ini semua kan spekulasi. Jadi, pada saatnya dia (rupiah) akan balik ke fundamentalnya.”

Tekanan terhadap rupiah sejak awal tahun sempat tak berujung kendati Bank Indonesia dan pemerintah melakukan sejumlah langkah stabilisasi. Sebelum menguat sepanjang pekan ini, rupiah masih bertengger di atas 15.000 per dolar AS—level terendah dalam dua dekade terakhir. Pelemahan hingga 10 persen dari posisi awal tahun, yakni Rp 13.542 per dolar AS, menjadikan rupiah sebagai mata uang yang terdepresiasi paling tinggi se-Asia Tenggara. Kondisi lebih buruk dialami Argentina, Turki, Brasil, dan India.

Menurut Dody, peluang bakal berlanjutnya penguatan rupiah masih terbuka seiring dengan rencana pertemuan Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping akhir bulan ini yang diprediksi meredakan perang dagang kedua negara. Pada sisi lain, kata dia, kondisi makroekonomi dalam negeri juga cukup kuat, seperti tingginya pertumbuhan ekonomi triwulan III sebesar 5,17 persen, rendahnya inflasi Oktober 3,16 persen, dan kenaikan pertama kalinya cadangan devisa menjadi USD 115,16 miliar.

Walaupun begitu, Dody mengkaui Bank Indonesia tetap mewaspadai kemungkinan rupiah kembali melemah. “Kami senantiasa berupaya menjaga kestabilan rupiah,” ujarnya.

Menurut ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, sumber tekanan terhadap rupiah tak serta-merta mereda. Salah satunya, kata dia, defisit transaksi berjalan (current account deficit) pada neraca pembayaran triwulan III yang diprediksi masih akan menembus 3 persen dari produk domestik bruto. “Ini akan menyebabkan rupiah melemah kembali,” kata Piter. Hari ini, Bank Indonesia mengumumkan neraca pembayaran periode Juli-September 2018.

———

Sumber: Koran Tempo

PERDA - PERBUP